Welcome

welcome to my world..

welcome to my life..

welcome to my heart..


-enjoy it-

Sunday, March 6, 2016

Semua bermakna.Semua berarti.Semua ada indahnya

Pernah ga denger orang lain atau diri sendiri bilang gini?

"Ga asyik nih,gara2 makan makan sambel,lambung aku jadi sakit"

"Gara2 tugas numpuk,aku stress gini"
"Gara2 tu cowo ,aku sakit hati"

Coba sekali lagi fikirkan

Itu semua juga kita yang pilih..
Kita memilih makan sambel,kita memilih kuliah,dan kita milih cowo itu

Kenapa manusia cenderung menyalhkan objek?

Bukankah memilih itu kata kerja yang dilakuin subjek ? 
Lalu, kenapa menyalahkan objek yang dipilih?

Sebelum makan sambel,atau masuk kuliah atau nerima cowo,orang itu seharusnya udah paham konsekuensinya, dan tetap memilih hal itu.

Walaupun misalnya kita ga memilih cowo itu,tapi memilih ga ngejauhin dia,berarti itu juga masuk pilihan kita.

Mungkin kita terbiasa menyalahkan sesuatu lain demi melindungi diriku sendiri.

Jadi, apa kita harus menyalahkan diri sendiri karena salah memilih?

Menurut aku, ga penting siapa atau apa yang salah,siapa atau apa yang bener.

yang penting apa yang kita pelajari ,dari hal-hal kecil sampai yang besar.
Hanya saja, kita harus lebih bertanggungjawab pd pilihan kita ke depannya.

Manusia yang bertanggung jawab,selalu berfikir matang-matang sebelum bertindak,karena apa yang akan menantinya nanti,harus ia hadapi, tidak lari,atau menyalahkan hal lain.. :)


Dan juga menjadi positive thinker.

Karena anugrah yang diterima manusia yang berfikir positif adalah no regrets.
semua bermakna..semua berarti..semua ada indahnya.

Mungkin makna dari suatu kejadian ga kita rasain langsung. Kita harus sabar dan tetap punya keyakinan.

Karena kesabaran sesungguhnya adalah meyakini maksud baik Tuhan.
Apakah ada keindahan dari sesuatu yang buruk yang menimpa kita? ADA.
Sekali lagi, baik dan buruk adalah ilusi yang diciptakan oleh pikiran manusia. Kita bisa melihat cahaya dalam ruang segelap apapun jika kita cukup terbuka untuk melihat dengan bijaksana.

Marilah lebih bijak dalam memilih, dalam melihat, dan dalam keyakinan. 


ARSIP: Januari 2010

#Latepost

Hal Menarik dari Film “Steve Jobs: The Man in the Machine”



Setelah semalem nonton “Steve Jobs: The Man in the Machine”, ada hal yang menarik dari film itu. Ada 2 pertanyaan dari film itu yang menarik buat aku.

Must you be ruthless and selfish to be a really successful entrepreneur?

Pernah baca artikel dengan judul yang sama. Kemudian nonton film ini. Benarkah untuk menjadi sukses kita harus egois dan kejam?

Ruthless itu menurut kamus artinya “having or showing no pity or compassion for others.”


Steve Jobs di film ini digambarkan sebagai orang yang heartless, menghabiskan hidupnya untuk “cinta” nya ke dunia teknologi. Terkadang mengabaikan hubungannya dengan manusia. 

Ada satu waktu, Jobs kerja sama dengan Steve Wozniak, untuk membuat terobosan di perusahaan game. Jobs Mengatakan pada Woz, bahwa ia hanya dibayar $700, dan masing-masing mendapat $350, sementara sebenarnya mereka dibayar $7000.


Di salah satu segmen film ini juga diceritaikan tentang seorang karyawan Foxconn (Salah satu penyuplai terbesar apple) di China,Sun Danyong. Yong kehilangan prototype iPhone 4, sampai akhirnya jatuh ke tangan media. Karyawan itu diintrogasi secara ketat. Setelah introgasi, Yong sempat chating dengan temannya , dan menulis,
“These F**king Dogs.
They are inhuman.
I Hope that someone can fix Focxonn.
They can search people’s home at will.
They can detain people at will.
They can beat people”.

Pada dini hari keesokan harinya, Yong bunuh diri. Nasib jurnalis yang mendapat prototype iPhone 4 itu sendiri, polisi geledah rumahnya & sempat dijadikan tersangka, padahal saat itu ia sudah mengembalikan prototype iPhone 4 ke Steve Jobs.

Selain itu, ketika salah satu ‘aset’ apple mengundurkan diri, Jobs ngontak google dan mengatakan “Jika anda memperkejakan salah satu dari mereka (mantan aset apple), itu berarti pernyataan perang!”, yang diakhri Apple & Goolge membuat perjanjian untuk tidak memperkejakan mantan karyawan dari perusahaan masing-masing.

Mungkin kata yang lebih tepat bukan Selfish” tapi  "Individualist". Dimana orang individualis mampu berfikir mandiri tanpa memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya.  Sebagai seorang enterpreneur, harus mampu mempengaruhi pikiran orang lain, daripada dipengaruhi orang lain. Jika tidak, visi perusahaan akan menjadi tidak bisa selalu tetap karena berusaha menyenangkan semua pihak.

Ruthless? Ya. Ruthless di dunia enterpreneur ini maksudnya seorang pengusaha harus mampu mengambil pilihan sulit, walaupun itu bisa merugikan beberapa pihak.

Kenapa banyak orang yang merasa kehilangan Steve Jobs saat dia meninggal, tanpa tau banyak tentang Jobs sndiri? 
Steve Jobs adalah seorang yang mencari kesempurnaan tapi tak pernah mendapat kedamaian. Dia mengagumi biksu, tetapi punya rasa empati yang kecil. Jobs juga menawarkan kebebasan melalui produknya, tapi kebebasan itu hanya dalam ruangan, dimana dia yang memegang kuncinya.

Apple sendiri, dibawah kendali Steve Jobs, yang mempunya slogan, “Think Different”, menanamkan suatu harapan pada masyarakat, bahwa pola pikir yang berbeda dari orang lain itu adalah pola pikir terbaik. Karena orang-orang yang berbeda dari orang lain tersebutlah,yang cenderung mempunyai kemampuan mengubah dunia. Itulah wajah apple yang dipromosikan Steve Jobs, “Berbeda, namun mampu mengubah dunia.”

Di Film tersebut, teradapat satu animasi tentang seseorang yang hendak membeli iPhone tetapi iPhone sudah soldout. Ia ditawarkan produk yang lebih baik, tetapi pembeli tersebut tetap menginginkan iPhone. Si Penawar akhirnya geram dan mengatakan “Handphone ini bisa memberi 3 permintaan ke pembelinya, termasuk salah satunya bisa memberi iPhone”, tapi pembeli itu tetep menolak. Si penawar itu bertanya, “Aku memberimu pilihan yang lebih baik dari segala hal, kenapa kamu tetap milih iPhone?”, Pembelinya jawab, “Karena itu bukan iPhone”.

Disitulah letak kejeniusan Jobs.

Di akhir dijelaskan, bahwa masyarakat mencintai apple bukan karena produk itu membuat dunia komunikasi jadi lebih baik, karena justru gadget itu malah mengisolasi manusia dari orang-orang terdekatnya. Masyarakat juga tidak mencintai Steve Jobs karena kebaikannya, karena ia bukan merupakan orang yang baik terhadap sesama.

Kenapa banyak pengguna apple yang merasa kehilangan Steve Jobs ketika ia meninggal? Karena Jobs merupakan seniman hebat, yang bisa mempengaruhi dunia untuk mencintai produknya. Seperti kata salah satu penulis didunia teknologi, Jobs menekankan jika produk apple itu “It is not machine for you, it is you”.

Manusia kadang lupa betapa uniknya mereka. Karena ketika kita beli gadget, gadget itu kosong, apa yang kita masukan ke dalamnya itu tergantung siapa kita. Jadi produk Apple itu pelopor dalam dunia teknologi yang menawarkan kita untuk memasukan diri kita sendiri ke dalam produk yang kita beli. Aplikasi yang kita download, musik yang kita suka,dll. Kemampuan terbaik Steve Jobs itu sendiri, adalah kemampuan menanamkan keyakinan pada seseorang, membuat orang percaya semua kata-katanya. Steve Jobs menanamkan pada masyarakat bahwa produk apple itu bukan sekedar alat, tapi juga adalah bagian dari diri pemiliknya.

Aku sendiri nulis ini di macbook. Aku juga pengguna iPhone dan iPod. Aku pake Apple semenjak iPhone 3G, sampai sekarang iPhone 6. Bahkan sampai saat ini, aku belum pernah memiliki smartphone android, dan tak pernah tertarik memilikinya. Kenapa? Semua produk apple itu banyak membuat tidak nyaman orang-orang karena kompleks, semua dipersulit. Memasukan lagu, transfer media,dll. Tapi justru itu yang membuat aku nyaman menggunakan produknya. Karena apple menjaga kualitasnya dalam ketidakbebasan itu. Karena aku merefleksikan diri sendiri dalam produk-produknya, aku adalah orang yang perfeksionis dalam beberapa hal. Hal itu membuat aku banyak melihat dari banyak sudut, mengatur banyak hal, dan sangat hati-hati dalam membuat keputusan. Ketika melihat produk apple, aku melihat sesuatu yang ribet, terlalu perfeksionis, berbeda dari orang lain, tetapi itu semua karena ingin memberikan yang terbaik untuk orang lain

Sunday, September 13, 2015

Kancil dan Singa ( Bukan Cerita Anak )

Di sebuah hutan, hiduplah seorang kancil yang periang dan suka bertualang. Suatu hari kawanannya beristirahat di sebuah lembah di kaki gunung.
" Ibu, bolehkah aku bermain di sekitar situ ? ", tanya si kancil.
" Boleh, tapi jangan jauh - jauh ya" jawab ibu kancil tersebut.

Lalu si kancil itu pun pergi. Tak lama ia melihat seekor kelinci, kelinci tersebut lari, dansi kancil mengejarnya.
Setelah beberapa saat, si kancil kehilangan jejak kelinci. Tanpa ia sadari, ia telah jauh memasuki hutan yang gelap. Ia menoleh ke belakang, dan saat itulah dia sadar, bahwa ia tersesat. Bagaimana ini, bagaimana aku bisa pulang? katanya dalam hati.

Setelah berkeliling cukup lama, si kancil melihat sebuah sungai, tanpa pikir panjang ia mulai minum di sungai tersebut. Saat ia selesai minum, si kancil berbalik dan ia terkejut, di belakangnya ada seekor singa sedang memperhatikannya.
" Jangan takut " sahut singa tersebut, "Aku tak kan menyerangmu"
Dengan tubuh yang bergetar,si kancil memberanikan diri bertanya, "mengapa? Bukankah sudah sifatmu memburu hewan sepertiku?
Singa tersebut tersenyum, "Dan bukankah sifatmu, tak pernah jauh dari kawanan?"
Si kancil diam. Ia sungguh tak percaya pada si singa, tapi jika memang singa ini hendak menyerangnya, bukankah sudah ia lakukan dari tadi. Apa yang harus kulakukan?, si kancil berfikir.

Singa itu mendekat. Si kancil menjauh.
" Percayalah padaku kancil, aku bukanlah seperti yang kau kira. Sudah dari kecil aku terlepas dari kawananku, aku singa tanpa kawanan. Karena dulu aku tak tau dan tak bisa menyerang mangsaku, aku belajar bertahan hidup dari memakan serangga, tanpa ku sadari, aku sudah terbiasa, dan aku benar-benar belum pernah sekalipun menyerang binatang yang lebih besar dari kumbang."
Si kancil tetap diam. ia bingung apa harus mempercayainya atau tidak.
"Apa kau tersesat?", tanya si singa.
"Iya"
"Aku sudah lama hidup di hutan ini, kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu pada kawananmu."
"Bagaimana jika kamu malah mengantarku pada kawananmu?" Tanya si kancil.
"Terserahlah, asal kamu tau, hutan ini penuh predator. Silahkan cari sendiri jalan pulang, tapi jangan berharap kamu bisa menemukannya sebelum mereka menemukanmu." Lalu singa tersebut berbalik menjauh.

Si kancil tertegun. Akhirnya ia membuat keputusan yang mungkin ia sesali.
"Tunggu,singa" ia mengejar si singa. 
"Baiklah, antar aku, tapi apa balasan yang bisa kuberikan?"
Singa tersebut tersenyum. "Aku tak meminta apapun"
"Benarkah?" 
Si kancil semakin merasa heran, tapi ia tau ia tak mempunyai pilihan lain.
"Ya, sekarang, jelaskan seperti apa tempat kawananmu menunggu"
Si kancil lalu menjelaskan lembah yang jadi tempat istirahat kawanannya.
"Baiklah, sepertinya aku tau temmpat itu, mari, lewat sini"
Si kancil mengikuti singa tersebut. Selama berjam-jam mereka berjalan. Si kancil mulai mengenal singa tersebut dan mulai mempercayainya. Ia juga kagum pada singa itu, karena berbeda dari jenisnya. Tak pernah ia sangka ia akan menemukan singa yang begitu baik.

Tak lama kemudian sampailah si kancil di tepi lembah.
"Baiklah, kamu akan aman dari sini, itu kawananmu.", kata si singa.
Kancil itu tersenyum dan memeluk singa, " Terimakasih, kuharap kita akan bertemu lagi"
"Semoga, aku mulai menyukaimu." Lalu singa itu berbalik dan masuk lagi ke dalam hutan yang gelap.

Si kancilpun berlari menuju kawanannya. "Darimana saja kamu? Kami semua khawatir terjadi sesuatu padamu" teriak ibu si kancil. Lalu ia menceritakan pengalamannya pada ibunya. "Apa? pokonya apapun yang terjadi jangan pernah bertemu dengan si singa itu. Mereka tidak pernah bisa dipercaya. Berjanjilah!", ibunya terlihat sangat geram sekaligus takut.
"Baiklah", kata si kancil dengan murung.

***

Beberapa minggu berlalu. Musim kemarau telah tiba. Rumput - rumput hijau sangat jarang ditemukan, mata air dan sungai - sungai dangkal pun sudah mulai kering. Pada saat - saat seperti ini, semua hewan disini dalam keadaan sulit, terutama karena sulitnya mendapat makanan yang layak. Udara semakin memanas, kawanan si kancil sedang beristirahat di bawah pepohonan. 

Dari kejauhan terdengar suara ranting patah, semua kepala menoleh. Terdapat sekawanan singa yang siap menyerang mereka. Kawanan kancil lari sekencang - kencangnya. Si kancil berlari tanpa melihat arah, dan akhirnya ia sadar, kawanan singa itu tak mengikutinya. Ia melihat ke sekeliling, si kancil akhirnya sadar bahwa ia tersesat untuk kesekian kalinya.

Beberapa hari berlalu, ia hidup dalam ketakutan, berusaha memakan apapun untuk bertahan hidup. Ia benar-benar sendirian di daerah yang luas ini. Ia mulai berjalan menuju padang pasir yang panas. Tak lama kemudian, ia melihat sesuatu dari kejauhan. Si kancil mendekat, ia melihat seekor singa tengah terbaring lemah, singa yang pernah menyelamatkannya dulu.

"Kancil, itukah kamu?", tanya singa
"Ya, apa yang terjadi padamu?"
"Aku belum makan berhari-hari. Bahkan seranggapun mulai bersembunyi. Musim panas tak pernah sepanas ini."
Si kancil merasa iba pada singa itu.
"Gigitlah aku, atau kamu akan mati", sahut si kancil.
"Apa kamu serius? bagaimana dengan lukamu? itu juga bisa membunuhmu"
"Sudahlah, lebih baik luka, daripada kamu mati,singa"

Akhirnya singa mengigit sedikit daging dari punduk sikancil. Si kancil meringis kesakitan, tapi ia tak bisa membiarkan singa yang pernah menyelamatkanya ini mati. Lagipula, kancil itu merasa benar-benar kesepian.

Hari berganti hari, kancil dan singa itu kini berjalan berdampingan, mencoba bertahan hidup di musim kemarau panjang ini.
Kancil memakan tumbuhan yang ia bisa temukan, dan singa..memakan sedikit demi sedikit daging si kancil. Suatu hari mereka beristirahat di tepi sungai yang kering. "Singa, aku ingin mencari air dulu, kamu tunggalah disini"
Si kancil sangat menyayangi singa itu. Baginya, singa itu merupakan teman yang setia berada disampingnya. Akhirnya ia menemukan sedikit sisa dari air sungai. Disana juga ada seekor kijang yang sedang minum.

"Hai, kenapa pundakmu?" tanya si kijang. Kancil mulai menjelaskan padanya.
"Bagaimana kamu bisa bilang itu kepedulian? yang ia lakukan hanya mengambil untung darimu, ia mulai mengigitmu semakin banyak, apa yang kau harapkan selanjutnya? bahwa ia akan berhenti menyakitimu?"
"Singa tak menyakitiku, bukankah kamu paham? Akulah yang memintanya", si kancil membela singa.
"Maka kamu bodoh, menetapkan dirimu sendiri dalam bahaya."
"Apa maksudmu?" tanya si kancil pada kijang.
"Bagaimanapun singa adalah singa, kancil adalah kancil, kalian dari dua dunia yang berbeda. Dimana yang satu pemangsa dan yang satu adalah mangsa. Kamu boleh percaya bahwa ia adalah singa yang berbeda, tapi insting mereka tetaplah sama. Lihatlah dengan jernih, hubungan ini menghancurkanmu, membuatmu merasa sakit. Apapun yang singa itu pernah lakukan dimasa lalu, tinggalkanlah." Kata si kijang.

Si kancil merasa tersinggung dengan omongan kijang.
"Akulah yang paling berhak menentukan disini. dan aku percaya singa itu tak berniat menyakitiku, jika musim kemarau ini lewat, ia akan kembali seperti semula. dan aku akan baik-baik saja. Ia membutuhkan ku, aku tak bisa meninggalkannya."
Kijang itu tersenyum kecil. "Ia membutuhkanmu untuk tetap hidup, dan kamu membutuhkan menjauh darinya untuk tetap hidup. Akankah kamu hidup seperti ini seterusnya? terluka karena ia membutuhkanmu? Kamu pikir sampai kapan kamu bertahan sampai ia menghabisi seluruh dagingmu?"
si kancil terdiam sejenak lalu berkata, "Aku tak bisa membiarkan Singa itu kelaparan, ia hadir disaat tak ada orang yang hadir untukku. Ia menyelamatkan hidupku sekali, dan aku tak bisa meninggalkannya disaat ia sangat membutuhkanku!" Tegas si kancil. Si kijang menggelang-geleng kepalanya, sambil berjalan menjauh ia berkata,"Meskipun itu membunuhmu secara perlahan? Semoga beruntung kawan."

Si kancil berjalan kembali ke tempat peristirahatannya. "Singa?" tanyanya.
"Ada apa kancil?" si singa yang sedang berbaring mulai berdiri.
"Bagaimana jika aku menolak memberimu dagingku lagi?" tanya kancil.
"Maka aku akan mati, dan kamu akan hidup dalam penyesalan itu seumur hidupmu. Bukankah kamu tak mau itu terjadi padamu?"
kancil itu cuma mengangguk. Pikirannya bercabang. Ia memikirkan apa yang dikatakan kijang seharian. 

Saat malam tiba, mereka tidur di sebuah padang yang cukup gersang. Si kancil tak bisa tidur. Disatu sisi, ia kesakitan. Disisi lain, ia tau, jika ia meninggalkan si singa, singa itu akan hancur, akan mati. Ia merasa ada kewajiban dalam dirinya untuk berkorban untuk singa tersebut, meskipun itu menyakitinya. Bagaimana mungkin ia tega meninggalkan singa yang selalu ada disaat ia butuh.

Hari demi hari berlalu, singa semakin kuat, dan kancil semakin lemah. Lukanya semakin lama semakin melebar. Sikancil sangat menderita, tapi ia mencoba kuat untuk singa. Si kancil, dengan bodohnya, tetap memberikan singa itu dagingnya, tak peduli dengan apa yang ia rasakan. Singa itu sering mengambilkan air untuk kancil, dan memapahnya, karena ia terlalu lemah. Singa terus menerus meminta maaf pada si kancil, tapi ia juga terus menerus memakan daging si kancil tersebut.

Pada suatu hari, si kancil tak bisa bergerak lagi. Singa terisak, dan berkata, "Mungkin ini saatnya kita berpisah, aku akan hidup demi kita. Terimakasih sudah menjagaku selama ini." Lalu singa itu melenggang pergi.

Tinggalah kancil tergeletak di tanah, terlalu lemah untuk bergerak. Pada akhirnya ia merasa lebih sendirian. Lebih terluka. Singa itu meninggalkannya dalam keadaan terluka parah. Diantara hidup dan mati. Ia meneteskan air matanya. Si kancil tau, setidaknya dalam hati kecilnya, bahwa ini akan jadi akhir kisahnya. Selama ini ia menutup dirinya dan berusaha melihat yang terbaik dari si singa. Ia berkorban mati-matian untuk hidup singa, membuang nyawanya sendiri.

Ibunya benar. Si kijang itu benar. Singa selamanya adalah singa, sebaik apapun ia, seberapa seringpun si singa meminta maaf. Singa itu tetap memakannya perlahan. Singa itu tetap menyakitinya. Singa itu sendang berusaha bertahan untuk hidup, jadi mungkin itu bukan salahnya. Tapi si kancilah yang salah, ia memberikan hidupnya pada si singa. Ia tidak memperjuangakan hidupnya.

Beberapa saat kemudian, hujan turun. Lalu, mata si kancil mulai tertutup. dan akhirnya ia istirahat untuk selamanya.

Monday, September 24, 2012

Dear my precious child

Dear a little one, our darling
we are eagerly waiting to welcome you
to your home
to your happy family
you are our future and the future of mankind

So come to this world
Happy,
Healthy, intellegent and brave
Be creative and loving
with qualities of leadership
Oh, my precious child..
We await.. your arrival..

your mom and dad, who loves you so much


Saturday, October 29, 2011

Latte (1)

"Lalu apa yang akan lakukan?" tanyanya sambil tertawa. "bisa apa kau?"


Ah, aku tak ingin berhadapan dengannya saat masih menjadi aku, aku harus memanggil Lei keluar. Ayolah,dimana kau..

aku terdiam. berkonsentrasi mencari Lei dalam pikiran ku. Pandanganku tiba2 meremang. aku tersenyum, dia datang. dan hitam. gelap.

---------------------------------------

Aku berdiri menghadapi udara sejuk, tp mengapa disini begitu ramai. sepertinya telah terjadi kecelakaan lalu lintas. aku mendekat. dan tersentak.aku melihat Gil, temanku yang merebut pacarku dan mengancamku, terbujur kaku di jalan berlumuran darah.

dan Jam tangan di tangan Gil menjelaskan segalanya.

Jam tanganku.


Aku mendekati mayatnya dan menangis tersedu-sedu, dimana tangan kanan ku berusaha mengambil gelang yg ia genggam. Biarlah, jika polisi menemukan sidik jariku, mereka tahu aku mendekatinya disaat ia sudah tiada.

Setelah ia dibawa ambulans, aku berjalan cepat menuju downstill, kedai kopi yang jarang pengunjung, sempurna untuk ku. Ku pesan Latte, dan diam menghadap keluar.

Kau kah yang membunuh Gil,Lei? Aku hanya ingin ia disakiti, bukan dibunuh. Aku terlalu lemah untuknya, bahkan, aku terlalu baik untuk marah padanya, disaat ia menghancurkan hidupku. Tapi tidak dibunuh, Lei..

Hpku berdering."Ya Fel?..Ya aku tau, aku ada di tempat kecelakaan Gil, aku kebetulan lewat..Aku sedang menuju RS, RS HVP kan?...Oke, smpe ktmu dsana"

Ya, sepertinya saatnya aku memakai 'topeng'ku kembali, agar terlihat 'normal'

-----------------------------------------
Entah mengapa aku selalu menyukai bau rumah sakit, bau darah, dan bau obat. Tentu tak kan kukatakan itu semua pada siapapun termasuk dokterku.

Ku melangkah ke ruang UGD RS HVP. Percayalah, tidak sulit buatku membuat diriku menangis disaat orang2 biasanya menangis.

Aku merapat pada Fela. "Bagaimana dia,Kapan mereka mengkebumikannya?" dengan sedikit air mata tentunya.

Fela menyandarkan bahunya padaku. Matanya sembab. Dia tak berkata apapun. Aku membelai rambutnya, seharusnya Fela lah yang Gil sayangi,kekasihnya, bukan kekasihku.

"Jangan tinggalkan aku, Fros", kata Fela sambil memelukku erat. Aku membalas memeluknya. "tidak, fel, kau yg jangan meninggalkanku.."

Dan disinilah kami tinggal berdua, kami yang dahulu berempat. Aku,Gil,Fela,dan Dein. Fela adalah satu2nya perempuan diantara kami.

Dein meninggal 2 tahun yang lalu, saat ia bersamaku tengah pulang dari sebuah cafe merayakan keberhasilannya mendapat beasiswa ke universitas terbaik.

Mengapa Dein meninggal? Menurut polisi,kami tengah mengendarai mobil, dan Dein melewati batas kecepatan, aku melompat disaat yang tepat, dan Dein menubruk bangunan di depannya.
Menurutku, aku tak tau. Lei yang mengambil alih saat itu, dan disaat ia dalam kendali, aku tak melihat apapun.

2 Tahun kemudian, hari ini, kami kehilangan Gil, kali ini aku tau, Lei lah yg melakukan.

------------------------------------------

Di pemakaman Gil, aku melihatnya berdiri sambil terisak, pacarku.. mantan pacarku, Trea. Kurasakan Lei yang menggebu-gebu ingin mengambil alih, tapi saat ini, aku lebih berkuasa.

Aku melirik pada Fela, ia juga memperhatikan Trea. "Dia kah, Fros? Cewemu yang dirayu Gil?", aku tersentak,selama ini ia tau?
"Ya" jawabku singkat, bukannya aku tak mau tau tentang bagaimana ia tau, tapi aku benar2 tak peduli.
Aku merangkul Fela dan mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan pulang, ia diam tak bergeming, sampai saat sampai depan rumahnya.
"Fros?"
"Ya?"
"Bagaimana perasaanmu?"
apa? ia menanyakan pe-perasanku?
"Aku tak mau ditinggal teman lagi. Apa kamu akan baik2 saja,fel?
Ia tersenyum. Ia memang cantik, pikirku.
"Selama kamu janji akan ttp disisiku,fros"
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena kamulah satu-satunya orang yang tak pernah mengecewakan aku"

Aku tak tau harus membalas apa, aku memilih diam. Andai ia tau siapa aku, siapa kami.

------------------------------------------

Seminggu kemudian, aku berada dipsikiaterku, dr.Ken
"Halo, Fros. Gimana perkembangan latihanmu? sudah bisa lebih sering mengambil alih dirimu dibanding kepribadianmu yang lain?"
Aku berfikir sejenak. Lei lah yang pandai berbohong bukan aku, aku ingin memangilnya, tapi aku takut ia berlaku seenaknya lagi.
Lalu, tanpa sadar, ia hadir. dan Gelap.
-----------------------------------------

Sayup-sayup kesadaranku kembali.
dr.Ken tersenyum, "jadi begitu, baiklah, mungkin kita bisa mengurangi jadwal kita. Kali ini cobalah tanpa obat2an ya?"
Aku cuma mengangguk, tanpa tau apa yang Lei katakan.
Sejujurnya aku merasa nyaman dengan diriku, tapi orang tuaku lah yang memaksaku pergi ke psikiater.
Akulah si pengecut, dan Lei selalu menjagaku. Selalu.

----------------------------------------

Aku masuk ke downstill.
"Secangkir latte extra kayu manis", aku memesan kopi kesukaanku.
Latte, bahkan kopi yang hitam pahit pun akan terlihat putih dan manis, ditutupi busa diatasnya, seakan-akan menyembunyikan apa yang ada dalamnya. Kopi dan susu, dua minuman yang berbeda disatukan dalam satu sajian. Lei adalah sang kopi hitam, dan akulah susunya. Tak ada yang mengetahui bahwa kami adalah 2 pikiran yang berbeda, karena sudah teraduk begitu sempurnanya.

Tiba- tiba aku melihat Fela masuk ke cafe, dan langsung menuju tempat aku duduk. Ia duduk didepanku.

"Fros, aku ingin kamu jawab jujur. Apa yang sebenarnya terjadi pada Gil?"

Sial. Ada apa ini? akupun tak pernah tau. Kurang puaskah ia dengan penjelasanku.

"Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu,Fel?"
Ia terdiam sejenak, lalu berkata,"Baiklah, aku ingin bicara pada Lei"

APA???Ba-bagaimana ia tau tentang Lei ?
Apa yang harus kulakukan?

Sebelum aku berfikir, kegelapan menyelimutiku.

(To Be Continued)

Friday, April 1, 2011

La Berltlye (1)


aku membuat secangkir kopi, lalu duduk tegak depan komputer. kutelusiri bagian - bagian dari La Berltlye. ya , itu nama drive D di komputer ku. aku adalah sebagian dari orang yang mungkin 'berbeda' menurut ku atau 'tidak normal' menurut orang lain, tergantung dari sudut mana manusia melihatnya.

aku buka dokumen itu, dimana biasanya aku menuliskan apa yang kurasa. tapi kali ini aku terdiam lama. terlalu berkecambuk di otak. serasa ingin ku removed semua kenangan dan rasa ku ini. semuanya tak pernah sirna hanya dengan tulisan. ketika aku mencoba untuk berbagi dengan orang lain, ia mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan dan itu bukan masalah besar. bagi dia. tapi tidak bagi ku.

teringat hari - hari lalu, ketika dengan sempurna aku mengenakan topengku depan orang - orang yang seakan akan mengenalku. aku disebut sebagai perempuan bijaksana yang dapat mengendalikan emosinya dengan sempurna. fyuh. kalian hanya belum melihat apa-apa. aku yang mengatur agar kalian melihat aku begitu. aku bukan mengendalikan emosiku, aku mengendalikan pandangan kalian tentangku.

aku terus menerus melirik jam ditanganku. sudah sekitar sepuluh menit aku diam tak bergeming di depan monitor. aku perhatikan monitor itu, aku pegang, dan aku tersenyum meningatkan siapa orang paling berjasa dalam hidupku, yang memberikan semua fasilitasku. yang di depannya aku tak perlu menjadi malaikat ataupun iblis. dia menerima ke'berbeda'an ku dengan cara yang membuatku nyaman. ayahku.

tiba - tiba kularikan jari - jari ku diatas keyboard, akan kutuangkan segala rasaku, dan biarlah hanya aku yang tahu bagaimana rasanya menjadi aku. aku menjadi tak terkendali, semakin lama jari-jariku menari semakin cepat.

sudah.

aku melirik hp ku. ah. aku malas membuka sms yang tertera sisitu. aku tahu itu hanya berisi makian. kuteguk semua sisa kopiku. lalu aku kembali ke dapur. kali ini kopi hitam. kopi adalah sahabatku. ia tak pernah menuntut apa-apa dan tak pernah mempersoalkan ke'berbeda'an ku.

aku kembali ke kamarku setelah melewati ibuku yang sedang menelopon pamanku, untuk membanggakan kakakku yang lulus di kedokteran dengan predikat cum laude. abaikanlah. sudah dua hari ia begini. sedangkan aku yang 'hanya' mahasiswa seni rupa tak menarik untuk diselami orang. tapi tidak dengan ayahku. ia membuatkanku studio untuk diriku sendiri. lagi-lagi hanya dia. ia mengerti bahwa menulis dan melukis adalah hidupku. hanya dengan dua hal ini aku bisa mengungkapkan perasaanku.

aku melewati kamar kakak ku, ia sedang bersama teman-temannya. ah, aku tak butuh teman. hanya orang - orang busuk yang berkedok sahabat sejati. setiap saat mereka bisa menikam dan menipu temannya sendiri.

aku kembali ke kamarku. aku menghembuskan nafasku. duduk dengan cangkir kopi dalam genggamanku. ah, airnya tampak kurang sekitar 3 mm. aku kembali ke dapur lagi. ya, aku menyukai sesuatu yang 'sempurna' dari sudut pandangku. seperti biasa, karena aku berbeda, banyak yang tak memahami hal ini.

ketika melewati ruang tengah, ibu masih menelopon entah siapa. dan dengan jelas, ia berkata " ya aku tak tahu dengan aira. ia sama sekali tak mau diatur dan setiap hari hanya melukis yang ia pedulikan. ah,sudahlah aku tak peduli. masih ada yuri yang bisa kubanggakan. bayangkan, ia lulus dari .. " tak kudengarkan kelanjutannya, karena aku sudah berbelok menaiki tangga.

aku juga tak peduli padamu.

aku membuka kamarku, dan menemukan kakakku disitu berbaring di tempat tidurku sambil mengisap sebuah batang rokok. aku tau persis apa yang akan ia lakukan.